Binkam

Kapolres Lombok Utara Tegaskan Tri Brata dan Catur Prasetya Harus Menjadi Pedoman Hidup dan Pedoman Kerja, Bukan Sekadar Hafalan

×

Kapolres Lombok Utara Tegaskan Tri Brata dan Catur Prasetya Harus Menjadi Pedoman Hidup dan Pedoman Kerja, Bukan Sekadar Hafalan

Sebarkan artikel ini

 

ntb.ceria.web.id/tag/lombok/”>Lombok Utara — Kepala Kepolisian Resor Lombok Utara Polda NTB, AKBP Agus Purwanta, S.I.K, menegaskan kepada seluruh personel jajarannya agar tidak memaknai Tri Brata dan Catur Prasetya sebatas teks normatif yang dihafalkan saat apel pagi, melainkan menjadikannya sebagai pedoman hidup serta pedoman kerja dan landasan moral dalam setiap pelaksanaan tugas kepolisian.

Penegasan itu disampaikan saat memimpin apel jam pimpinan di Lapangan Tantya Sudhirajati Polres Lombok Utara, Senin ( 4/5 ).

Di hadapan seluruh personel, Agus menekankan bahwa tantangan institusi Polri saat ini menuntut lebih dari sekadar kedisiplinan administratif. Menurutnya, masyarakat membutuhkan kehadiran polisi yang mampu memberi manfaat nyata melalui pelayanan yang tulus, profesional, berintegritas, dan humanis.

“Menjadi polisi baik saja tidak cukup. Polisi harus hadir memberi manfaat nyata bagi masyarakat. Karena itu, Tri Brata dan Catur Prasetya harus dipedomani dalam tindakan, bukan sekadar dihafal,” tegasnya.

Pernyataan tersebut menjadi penekanan kuat atas arah pembinaan personel yang terus dibangun di lingkungan Polres Lombok Utara, yakni mendorong transformasi kultur kerja berbasis nilai dan karakter.

Bagi Agus, ukuran keberhasilan seorang anggota Polri bukan terletak pada kemampuan melafalkan nilai-nilai dasar kepolisian, melainkan sejauh mana nilai tersebut tercermin dalam sikap, keputusan, serta pelayanan yang diberikan kepada masyarakat.

Sejak dipercaya memimpin Polres Lombok Utara pada 14 Januari 2025, ia konsisten menanamkan fondasi pembinaan personel melalui internalisasi dua nilai filosofis, yakni Handarbeni dan Tepo Seliro.

Konsep Handarbeni dimaknai sebagai rasa memiliki terhadap institusi, sehingga setiap personel dituntut menjaga marwah Polri sebagaimana menjaga kehormatan dirinya sendiri.

Sementara Tepo Seliro menjadi pengingat penting agar setiap anggota senantiasa mengedepankan empati, kepekaan sosial, serta kemampuan menempatkan diri saat berinteraksi dengan masyarakat.

Kedua nilai tersebut kemudian menjadi fondasi utama jargon pembinaan yang digaungkan Agus, yakni “Polisi Baik dan Bermanfaat.”

Namun demikian, Agus mengingatkan bahwa profesionalitas tidak selalu diukur dari capaian besar. Dalam kondisi tertentu, menjaga diri agar tidak melakukan pelanggaran justru menjadi bentuk tanggung jawab paling mendasar sebagai anggota Polri.

“Kalau belum bisa bekerja luar biasa, minimal jangan membuat pelanggaran. Jangan menjadi beban institusi,” ujarnya.

Pesan itu disampaikan sebagai pengingat bahwa kepercayaan publik terhadap Polri sangat ditentukan oleh perilaku individual setiap personel.

Sebagai bagian dari penguatan karakter, Polres Lombok Utara juga secara konsisten melaksanakan pembinaan rohani dan mental (Binrohtal) setiap Kamis.

Menurut Agus, kegiatan tersebut bukan sekadar rutinitas, melainkan ruang refleksi moral dan spiritual agar seluruh personel tetap berada pada koridor pengabdian yang benar.

Ia meyakini internalisasi Tri Brata, Catur Prasetya, filosofi Handarbeni, Tepo Seliro, serta penguatan spiritual melalui Binrohtal merupakan formula strategis dalam membentuk sumber daya manusia Polri yang profesional sekaligus humanis.

Langkah pembinaan yang dibangun di Polres Lombok Utara menunjukkan bahwa reformasi kepolisian tidak cukup hanya melalui modernisasi sistem dan peningkatan kemampuan teknis.

Lebih dari itu, reformasi sejati harus dimulai dari pembentukan karakter.

Sebab pada akhirnya, masyarakat tidak membutuhkan polisi yang hanya hadir dengan seragam dan kewenangan, tetapi polisi yang kehadirannya mampu menghadirkan rasa aman, keteladanan, dan manfaat nyata di tengah kehidupan sosial.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *