ntb.ceria.web.id/tag/lombok/”>Lombok Barat, NTB – Menjaga kelestarian adat sembari memastikan ketertiban umum menjadi prioritas jajaran Kepolisian Sektor (Polsek) Labuapi. Pada Senin sore, 27 April 2026, personel kepolisian diterjunkan untuk mengawal tradisi Nyongkolan yang berlangsung meriah di lintasan Jalan Gunung Pengsong, Desa Perampuan, Kabupaten Lombok Barat.
Langkah pengamanan ini diambil guna memastikan prosesi sakral suku Sasak tersebut berjalan khidmat tanpa mengganggu arus lalu lintas maupun stabilitas keamanan di wilayah hukum Polres Lombok Barat.
Sinergi Kepolisian dalam Mengawal Tradisi Lokal
Kegiatan pengamanan (PAM) ini merupakan bentuk kehadiran Polri di tengah masyarakat, khususnya dalam kegiatan yang melibatkan massa dalam jumlah besar. Tradisi Nyongkolan, yang merupakan prosesi mengarak pasangan pengantin menuju rumah mempelai wanita dengan iringan musik tradisional seperti Gendang Beleq, memang kerap menggunakan akses jalan raya utama. Oleh karena itu, pengaturan ruang dan waktu menjadi krusial agar kegiatan adat dan kepentingan publik lainnya dapat berjalan berdampingan.
Kapolres Lombok Barat, Polda NTB, AKBP Yasmara Harahap, S.I.K., M.Si., melalui Kapolsek Labuapi, Iptu I Nyoman Rudi Santosa, menegaskan bahwa personel kepolisian selalu siap siaga memberikan pelayanan terbaik dalam setiap kegiatan kemasyarakatan. Ia menyampaikan bahwa pengamanan ini dilakukan secara humanis namun tetap tegas dalam pengaturan teknis di lapangan.
“Kami menurunkan personel untuk memastikan bahwa saudara-saudara kita yang sedang melaksanakan prosesi adat Nyongkolan dapat berjalan dengan aman lancar/”>dan lancar. Fokus kami adalah mencegah terjadinya kemacetan panjang serta potensi gesekan di jalan raya,” ujar Iptu I Nyoman Rudi Santosa saat memberikan keterangan terkait kegiatan tersebut.
Rute Strategis dan Fokus Pengamanan di Jalur Gunung Pengsong
Pengamanan yang dimulai pukul 16.30 WITA hingga selesai ini berpusat pada rute yang cukup padat. Peserta Nyongkolan mengambil titik start dari depan SDN 2 Kuranji, Dusun Kelongkong, Desa Kuranji Dalang. Rombongan yang terdiri dari pengantin, keluarga, dan para pengiring tersebut kemudian bergerak menuju Dusun Karang Bayan di Desa Perampuan.
Sepanjang perjalanan di Jalan Gunung Pengsong, Bhabinkamtibmas Desa Perampuan, Aipda I Made Sumerta, tampak berada di barisan depan untuk mengarahkan para peserta. Kehadiran petugas berseragam ini terbukti efektif dalam meredam euforia berlebih dan menjaga agar barisan pengiring tetap teratur, sehingga kendaraan dari arah berlawanan tetap bisa melintas meskipun dengan kecepatan terbatas.
Iptu I Nyoman Rudi Santosa menambahkan bahwa pemantauan terhadap iring-iringan musik juga menjadi perhatian. Hal ini dilakukan agar volume suara dan perilaku di jalan tetap dalam koridor kesantunan adat.
“Petugas di lapangan tidak hanya mengatur lalu lintas, tetapi juga memberikan imbauan kepada koordinator lapangan atau perwakilan keluarga pengantin agar selalu menjaga ketertiban. Kami ingin tradisi luhur ini tetap terjaga nilai estetikanya tanpa menimbulkan keluhan dari pengguna jalan lain,” tambah Kapolsek Labuapi.
Membangun Kesadaran Masyarakat melalui Sambang Desa
Selain melakukan pengamanan fisik di jalan raya, kegiatan ini juga menjadi momentum bagi Bhabinkamtibmas untuk melakukan pendekatan persuasif kepada warga. Aipda I Made Sumerta memanfaatkan sela-sela kegiatan untuk berinteraksi dengan masyarakat Desa Perampuan dan peserta yang datang dari luar desa.
Edukasi mengenai pentingnya keselamatan berkendara bagi para pengiring juga disampaikan secara langsung. Polri berharap masyarakat semakin sadar bahwa pelaksanaan tradisi akan jauh lebih bermakna jika disertai dengan kepatuhan terhadap aturan yang berlaku.
Hingga prosesi Nyongkolan berakhir di Dusun Karang Bayan, situasi dilaporkan terpantau aman, tertib, dan terkendali. Tidak ada insiden menonjol yang mengganggu jalannya acara. Kerja sama yang baik antara kepolisian, tokoh adat, dan pemuda setempat menjadi kunci keberhasilan pengamanan sore itu. Dengan adanya pengawalan rutin seperti ini, diharapkan kerukunan antarwarga dan pelestarian budaya di Lombok Barat dapat terus berlanjut secara harmonis.











